www.lineberita.id – LEBAK – Dalam beberapa hari terakhir, hujan deras telah mengguyur Kabupaten Lebak, Banten, menyebabkan banjir yang merendam lahan pertanian di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak. Banjir ini menimbulkan ancaman serius bagi tanaman padi milik petani setempat, yang berpotensi membusuk dan menyebabkan gagal panen yang signifikan.
Salah seorang petani, Damiri, menjelaskan bahwa genangan air di kawasan sawah telah berlangsung hampir sebulan dan semakin parah akibat hujan yang terus-menerus turun setiap hari. “Walaupun hujannya kecil, tetapi intensitasnya hampir setiap hari. Saluran air tidak lancar, sehingga mengakibatkan genangan,” tambahnya.
Di kelompok taninya, menurut Damiri, terdapat sekitar 11 hektare sawah yang terendam banjir, dengan lahan pertanian lain yang juga terdampak lebih luas. “Penyebab utama adalah saluran air yang kecil dan banyaknya pohon di sekitar saluran tersebut,” ujarnya, menyoroti masalah yang memperburuk kondisi lahan pertaniannya.
Gejala Efek Banjir terhadap Pertanian di Lebak
Kerugian yang dialami petani akibat banjir sangat sulit untuk diukur. Tanaman padi yang terendam air selama lebih dari satu pekan berisiko tinggi untuk membusuk. “Dalam beberapa hari saja, pertumbuhan padi sudah terganggu. Jika terendam lebih dari seminggu, pasti busuk,” jelas Damiri dengan nada khawatir.
Ia juga menerangkan bahwa banyak petani yang terpaksa menanam ulang padi hingga tiga kali dalam satu musim tanam. Namun, usaha tersebut sering kali berakhir sia-sia karena banjir yang terus-menerus mengancam hasil pertanian. “Sangsara sekali kalau sawah kebanjiran begini,” ujarnya.
Untuk bisa bertahan, beberapa petani di daerah tersebut bahkan harus rela mengeluarkan biaya dan tenaga lebih untuk menanam ulang beberapa kali. “Banyak usaha yang terbuang percuma, capek rasanya,” ungkapnya dengan nada penuh keputusasaan.
Pentingnya Perbaikan Infrastruktur Irigasi untuk Petani
Hingga saat ini, para petani berharap perhatian dari pemerintah daerah terhadap kondisi yang mereka alami. Salah satu solusi yang sangat dibutuhkan adalah perbaikan saluran irigasi yang selama ini dianggap menjadi penyebab utama terjadinya banjir. “Kami berharap ada aksi nyata dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Damiri.
Harapan akan perbaikan saluran irigasi sangat penting mengingat proyek pertanian memiliki dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Selama ini, kondisi irigasi yang tidak memadai berkontribusi pada sulitnya penanganan air hujan, sehingga banjir menjadi ancaman yang terus menerus. “Kami ingin solusi yang berkelanjutan,” jelasnya.
Dengan adanya perhatian dan inisiatif tepat dari pemerintah, diharapkan masalah banjir dapat teratasi dengan lebih efektif. Petani berharap untuk tidak hanya merindukan hujan untuk pertumbuhan tanaman, tetapi juga mengharapkan sistem yang lebih baik untuk saluran air. “Kami ingin bisa bertani tanpa khawatir sawah kebanjiran,” tuturnya.
Konsekuensi Ekonomi bagi Komunitas Petani
Konsekuensi dari banjir ini tidak hanya berdampak pada tanaman padi, tetapi juga pada seluruh komunitas petani. Kegagalan panen berarti hilangnya pemasukan dan penghidupan bagi banyak keluarga yang bergantung pada pertanian. “Banjir ini membuat banyak petani tertekan secara finansial,” kata Damiri.
Akibatnya, banyak petani terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kami sudah kehabisan sumber pendapatan, dan bercocok tanam menjadi semakin sulit,” tambahnya.
Tidak hanya itu, kerugian yang diakibatkan oleh banjir juga mempengaruhi kesejahteraan masyarakat secara umum. Ketika padi gagal panen, maka ekonomi lokal akan lesu dan berdampak pada sektor-sektor lain seperti perdagangan dan jasa. “Kami ingin pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak kami, tetapi semuanya terganggu oleh bencana ini,” ungkap Damiri dengan nada penuh harap.


