www.lineberita.id – Berdasarkan inisiatif terbaru yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat ketahanan pangan, mereka telah meresmikan sebuah ‘Smart Green House’ di Kabupaten Pandeglang. Proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah inflasi yang sering kali dipicu oleh fluktuasi harga cabai.
Pada kesempatan tersebut, BI juga menggelar gerakan tanam cabai di Desa Pamarayan, Jiput. Langkah ini menjadi simbol kolaborasi antara berbagai pihak dalam menjaga kestabilan harga pangan di masyarakat.
Berdasarkan data yang dibagikan oleh Kepala Perwakilan BI Banten, Ameriza M. Moesa, inflasi di Banten per Mei 2025 tercatat hanya 1,57 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional. Pencapaian ini merupakan hasil dari kolaborasi erat antara BI dan berbagai stakeholder lain.
“Kami senantiasa berupaya menjaga kestabilan harga melalui sejumlah program seperti operasi pasar murah dan kerja sama antar daerah untuk memperkuat pasokan pangan,” jelas Ameriza.
Sejak awal 2025, BI telah melakukan 114 kali operasi pasar murah sebagai respons terhadap lonjakan harga yang tiba-tiba. Selain itu, kerja sama pasokan dengan sejumlah daerah juga aktif dilakukan, salah satunya dengan BUMD DKI Jakarta pada pertengahan Juni lalu.
Peran Strategis Cabai dalam Keterjangkauan Pangan
Dalam konteks ketahanan pangan, cabai memiliki peran yang sangat strategis. Meskipun populasi Banten mencapai 10 juta jiwa, namun produksi cabai dan beberapa komoditas lain masih mengalami defisit. Oleh karena itu, banyak kebutuhan yang harus didatangkan dari luar daerah.
Ameriza menyampaikan bahwa meskipun upaya telah dilakukan, ketersediaan cabai lokal masih belum bisa memenuhi permintaan. “Kami terus mendorong budidaya cabai berbasis teknologi di Pandeglang sebagai model percontohan,” tambahnya.
Smart Green House yang diresmikan berfungsi bukan hanya sebagai tempat budidaya, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran bagi petani. Ini adalah langkah inovatif yang diarahkan untuk menciptakan pertanian yang lebih modern dan efisien.
Fasilitas ini memiliki kapasitas untuk menampung 540 bibit cabai sekaligus dilengkapi dengan sistem yang memantau suhu, kelembapan, dan nutrisi tanaman secara otomatis. Hal ini diharapkan dapat menarik generasi muda untuk terlibat dalam dunia pertanian.
“Kami ingin petani milenial terbiasa dengan teknologi, agar pertanian kita dapat maju,” lanjut Ameriza. Dengan pendekatan digital ini, BI optimis dapat mengurangi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.
Kebutuhan Infrastruktur Pertanian yang Lebih Modern
Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, memberikan apresiasi atas peluncuran Smart Green House. Ia menilai dukungan dari BI sangat berharga dan langkah ini akan membantu petani dalam adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem.
“Sistem yang ada memungkinkan pemantauan yang lebih efisien melalui perangkat seluler, memberikan kemudahan bagi petani untuk mengatur lahan mereka,” ujarnya. Ini menjadikan pertanian lebih praktis dan merespons tantangan yang dihadapi saat ini.
Dewi menekankan pentingnya cabai sebagai komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi. “Ketika harga cabai melambung, dampaknya langsung terasa pada daya beli masyarakat,” ungkapnya.
Cabai merah di pasaran bisa mencapai Rp40 ribu per kilogram, dan harga cabai rawit bahkan bisa menembus Rp60 ribu per kilogram. Hal ini semakin menegaskan pentingnya pengembangan produksi cabai lokal yang lebih stabil.
Di Kabupaten Pandeglang sendiri, terdapat beberapa sentra produksi cabai, utamanya di Kecamatan Saketi dan Pulosari, dengan luas lahan sekitar 85 hektare dan menghasilkan sekitar 72 ton cabai per tahun.
Langkah Ke Depan untuk Pertanian yang Lebih Berkelanjutan
Acara peresmian tidak hanya diakhiri dengan simbolis tanam cabai, namun juga disertai dengan sosialisasi teknologi digital untuk pertanian. Ini adalah langkah awal yang krusial dalam mengedukasi petani lokal.
Kemitraan antara BI dan Pemerintah Kabupaten Pandeglang berencana untuk mengadakan pelatihan khusus bagi petani milenial. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mereka mengenai smart farming.
“Kami ingin agar Pandeglang dapat bertransformasi menjadi lumbung cabai bagi wilayah Banten,” ungkap Dewi. Dengan berbagai inisiatif ini, tidak hanya produksi yang meningkat, namun juga kesejahteraan petani.
Keberhasilan program ini akan menjadi model bagi daerah lain di Indonesia. Dengan pendekatan berbasis teknologi, diharapkan pertanian di masa depan lebih berkelanjutan dan mampu memenuhi kebutuhan pangan secara lokal.
Saat ini, semua pihak memiliki harapan besar terkait perkembangan pertanian di Pandeglang. Dengan terobosan yang ada, mereka berharap bisa menciptakan ekosistem pertanian yang lebih sehat dan produktif.


