www.lineberita.id – Kondisi Sungai Ciujung yang menghitam dan berbau menyengat di Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, menjadi perhatian serius para nelayan dan petambak setempat. Pencemaran yang terjadi berdampak langsung pada hasil panen mereka, bahkan menyebabkan kematian ikan secara massal di tambak yang mereka miliki.
Maksum, seorang petambak bandeng di desa tersebut, mengungkapkan bahwa tambaknya seluas dua hektare kini tidak lagi bisa berfungsi seperti dulu. Kerusakan sistem pengairan yang bersumber dari sungai Ciujung menyebabkan masalah besar dalam budi daya ikan yang dijalankannya.
“Dulu panen bisa mencapai satu ton, namun sekarang semua usaha panen gagal,” kata Maksum. Setiap kali ia mencoba untuk memanen, ikan-ikan yang ada di tambak justru mati sebelum waktunya, dan hal ini sangat mempengaruhi kehidupannya sebagai petambak.
Pencemaran yang Mengancam Hidup Warga Desa
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi air Sungai Ciujung yang pekat dan mengeluarkan bau tidak sedap. Bercak-bercak mencurigakan yang tampak seperti minyak di permukaan air semakin memperkuat dugaan adanya pencemaran limbah dari industri, yang membuat ekosistem sungai rusak parah.
Menurut Maksum, ikan-ikan yang terpapar air sungai mengalami kerusakan dari dalam meskipun secara fisik tampak baik. “Ikan-ikan yang kami bawa ke tambak malah mati. Badannya bengkak dan dalamnya mengeluarkan bau tidak sedap,” tambah Maksum. Hal ini menunjukkan betapa besarnya dampak pencemaran terhadap kualitas ikan yang dihasilkan.
Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa pemulihan tambak yang terkena limbah sangat sulit dan memakan waktu lama. Dalam satu tahun, petambak umumnya dapat melakukan panen hingga tiga kali. Namun, dalam beberapa musim terakhir, Maksum dan petambak lain mengalami kegagalan total.
Dampak Pencemaran Terhadap Keseharian Warga
Secara lebih luas, Endi, seorang warga Desa Tengkurak lainnya, mengungkapkan dampak pencemaran yang langsung dirasakan oleh penduduk. Kini, mereka terpaksa membeli air bersih dalam kemasan galon untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci, karena air sungai sudah tidak dapat digunakan.
“Harganya bisa mencapai Rp3.500 hingga Rp4.000 per galon, dan kami bisa membeli tiga galon dalam sehari,” ungkap Endi. Hal ini tentunya menambah beban ekonomi bagi warga yang sebelumnya bisa memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan harian mereka.
Endi menambahkan bahwa meskipun mereka sering didata sebagai nelayan dan petambak yang dirugikan, selama ini bantuan tidak pernah sampai ke tangan mereka. “Saya yang paling merasakan dampaknya namun bantuan lebih banyak diberikan kepada orang lain,” keluhnya, menunjukkan ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat setempat.
Harapan untuk Perbaikan dan Pemulihan
Dengan situasi yang semakin memprihatinkan, para warga terus berharap agar pemerintah segera turun tangan dalam menangani pencemaran Sungai Ciujung. Tindakan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan agar aktivitas usaha budi daya ikan dan kehidupan sehari-hari mereka bisa kembali normal.
“Sekarang semua usaha mati, mulai dari nelayan hingga tambak. Kami hanya bisa menunggu kepastian tentang bagaimana nasib kami kedepannya,” ucap Sizwan, seorang nelayan yang terdampak. Harapan akan solusi dari pemerintah menjadi satu-satunya penantian mereka di tengah ketidakpastian yang ada.
Situasi ini mendesak perhatian yang lebih dari pihak berwenang untuk mengevaluasi penyebab masalah dan mendorong upaya penyelesaian yang menyeluruh. Jika tidak segera ditangani, dampak negatif pencemaran ini akan semakin parah, tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi lingkungan sekitar yang tergantung pada keberlangsungan ekosistem Sungai Ciujung.


