www.lineberita.id – JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) di bawah kepemimpinan Direktur Utama Wamildan Tsani berkomitmen untuk meraih keuntungan pada tahun 2026. Ini merupakan harapan baru bagi maskapai pelat merah tersebut, yang baru-baru ini mendapatkan suntikan dana seiwa sebesar Rp 6,6 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara.
“Kami yakin tindakan korporasi yang dilakukan oleh Danantara akan menjadi titik balik bagi Garuda Indonesia. Dengan demikian, kami optimis dapat mencapai keuntungan bersih,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers di Plaza Mandiri.
Wamildan menyoroti bahwa dana tersebut akan dimanfaatkan untuk mengoptimalkan operasional perusahaan. Dinamika ini diharapkan dapat berimbas positif pada pendapatan Garuda Indonesia.
“Ini adalah langkah penting dalam peningkatan dan optimasi operasional perusahaan,” tambahnya, mengisyaratkan potensi peningkatan efisiensi dan produktivitas di masa depan.
Performa Keuangan Garuda di Awal Tahun 2025
Pada kuartal I tahun 2025, PT Garuda Indonesia melaporkan rugi bersih sebesar USD 76,48 juta atau sekitar Rp 1,26 triliun. Meskipun ada kerugian, angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada kuartal I/2024, rugi bersih yang dilaporkan lebih tinggi, yakni mencapai USD 87,03 juta atau sekitar Rp 1,44 triliun. Dengan demikian, penurunan kerugian sekitar 12 persen menunjukkan adanya kemajuan meski masih di bawah standar profitabilitas.
Kenaikan pendapatan usaha menjadi salah satu faktor kunci peningkatan kinerja keuangan ini. Total pendapatan Garuda Indonesia naik 1,62 persen menjadi USD 723,56 juta, sedangkan sebelumnya tercatat USD 711,98 juta pada kuartal yang sama tahun lalu.
Sumber Pendapatan dan Kontribusi Segmen Usaha
Sebagian besar pendapatan Garuda berasal dari layanan penerbangan, yang menyumbang USD 668,56 juta. Kontribusi signifikan ini mencerminkan ketahanan maskapai di tengah tantangan industri penerbangan.
Selain segmen penerbangan, pemeliharaan pesawat juga memberikan kontribusi yang besar, yakni sebesar USD 95,36 juta. Sektor lain, meskipun lebih kecil, berhasil berkontribusi USD 93,7 juta untuk keseluruhan pendapatan.
Namun, beban usaha Garuda mengalami kenaikan yang signifikan. Pada kuartal pertama 2025, total beban usaha naik 2,19 persen menjadi USD 718,35 juta dibandingkan USD 702,92 juta pada kuartal I/2024, menambah kompleksitas dalam perhitungan laba rugi perusahaan.
Tantangan dan Prospek Masa Depan Garuda Indonesia
Kenaikan beban ini menjadi salah satu faktor yang menghambat pemulihan kinerja keuangan Garuda. Meskipun pendapatan mengalami pertumbuhan, beban yang tinggi mengakibatkan tekanan tambahan pada arus kas perusahaan.
Setelah dilakukan penghitungan keseluruhan komponen pendapatan dan beban usaha, Garuda mencatatkan rugi sebelum pajak sebesar USD 88,73 juta. Ini menunjukkan penyusutan dibandingkan tahun sebelumnya yang merugi hingga USD 100,76 juta.
Perbaikan ini menunjukkan bahwa meskipun dalam situasi sulit, langkah-langkah strategis masih bisa membawa hasil positif. Investasi dan optimasi operasional diharapkan dapat memfasilitasi pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.


