www.lineberita.id – CILEGON – Safiah, seorang janda beranak enam, menghadapi kenyataan pahit dengan atap rumahnya yang telah rusak parah. Setiap kali hujan, air menciprat masuk ke dalam rumahnya, membuatnya tidak nyaman dan terus-menerus merasakan derita akibat kebocoran yang disebabkan oleh atap yang sudah lapuk dimakan usia.
Dalam kesederhanaan hidupnya, ia hanya bisa meratapi keadaan yang ada. Rumah mungil yang ditempatinya selama 25 tahun dan terletak di lingkungan Seruni, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, sangat jauh dari kata layak.
“Paling tidak, saya ingin rumah ini aman dan nyaman untuk ditinggali,” harap Safiah ketika bercerita mengenai kondisi hidupnya yang memprihatinkan.
Realita Hidup di Tengah Keterbatasan
Sehari-hari, Safiah harus berurusan dengan berbagai kesulitan, termasuk ketiadaan jamban yang memadai. Ia berkata, “Kamar mandi ada, tapi untuk buang air besar, saya harus pergi jauh ke terminal.”
Kondisi ini bukan hanya menyulitkan tetapi juga menempatkan Safiah dalam posisi yang sangat rentan. Memang, rasa ketidakberdayaan terus membayangi hidupnya, ditambah lagi dengan usia yang sudah tidak muda.
Meski begitu, semangat untuk tetap bertahan dan menjalani hidup dengan harapan baik harus terus hidup di dalam dirinya. Setiap pagi, ia berusaha untuk tetap positif meskipun realita hidup tidak berpihak padanya.
Perubahan yang Datang melalui Bantuan Partai Politik
Berita baik akhirnya muncul, ketika partai yang dipimpin oleh Presiden RI Prabowo Subianto, Gerindra, memutuskan untuk memberikan bantuan kepada rumah Safiah. Dalam rangkaian acara peringatan hari jadi ke-18 partai, rumahnya dipilih sebagai salah satu lokasi untuk dibenahi.
Helldy Agustian, Ketua DPC Gerindra Kota Cilegon, secara langsung menghadiri kunjungan tersebut. Ia menjelaskan, “Bantuan ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat yang membutuhkan. Kami sudah survei sebelumnya dan rumah Safiah ini sering mengalami kebanjiran.”
Melihat langsung kondisi rumah tersebut, Helldy tampak terharu. Kejadian ini membuatnya merefleksikan kembali upayanya dalam membantu masyarakat yang kurang beruntung.
Empati dan Tanggung Jawab Sosial
Helldy berbicara dengan penuh empati kepada Safiah, mengungkapkan rasa malu dan kesedihannya karena tidak mengetahui kondisi rumah tersebut selama ini. “Saya merasa sedih dan malu, karena baru sekarang saya bisa melihat kondisi rumah ibu Safiah secara langsung,” ujarnya.
Rasa tanggung jawab sosial menjadi lebih mendalam setelah mendengar cerita dan penderitaan Safiah. Hal ini mengingatkan kita bahwa banyak orang di sekitar kita yang hidup dalam kondisi kesulitan, namun sering tersisih dari perhatian pemerintah.
Ia menyadari bahwa pemerintah perlu lebih responsif terhadap kebutuhan warga, terutama yang berstatus kurang mampu. “Kami harus berupaya lebih keras untuk menjangkau mereka yang terpinggirkan,” tambah Helldy.
Menciptakan Kesempatan untuk Perubahan
Pemberian bantuan ini bukan hanya sekadar berfokus pada perbaikan fisik rumah, tetapi juga harapan baru bagi Safiah. Ketika atap rumahnya diperbaiki, ia berharap dapat merasakan kenyamanan dan keamanan yang selama ini diimpikannya.
Melalui tindakan ini, Helldy berharap dapat mendorong komunitas untuk lebih peduli dan terlibat dalam penanganan masalah sosial di sekitar mereka. “Setiap orang bisa berkontribusi dengan cara mereka masing-masing untuk membantu yang membutuhkan,” ungkapnya.
Tindakan kecil dapat membawa perubahan besar, terutama bagi mereka yang mengalami kesulitan seperti Safiah. Harapan dan kebangkitan emosi saling terkait dalam penciptaan lingkungan tinggal yang layak dan nyaman.


