www.lineberita.id – SERANG – Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Banten, Kombes Pol Hendra Wirawan, memberikan jaminan bahwa aparat kepolisian tidak akan mengambil tindakan represif terhadap aksi unjuk rasa mahasiswa. Diungkapkan saat berkunjung ke demonstrasi di depan DPRD Provinsi Banten pada Sabtu malam, janjinya ini bertujuan untuk menjaga komunikasi yang baik antara mahasiswa dan kepolisian.
Hendra menjelaskan bahwa meskipun penyampaian pendapat di muka umum memiliki prosedur tertentu, pihak kepolisian tetap akan memberikan pengamanan yang diperlukan. Hal ini mengindikasikan adanya pengertian dari kedua belah pihak untuk menciptakan suasana yang kondusif selama berlangsungnya aksi tersebut.
Ia juga mengingatkan para demonstran untuk menjaga ketertiban dan mewaspadai kemungkinan adanya provokator yang dapat memperkeruh suasana. Dengan penekanan pada pentingnya visi dan tujuan demonstrasi, Hendra berharap komunikasi yang jelas dapat membantu mencapai kesepakatan.
Menjaga Ketertiban dalam Penyampaian Pendapat
Dalam konteks unjuk rasa, Hendra menekankan bahwa mahasiswa berhak untuk menyampaikan pendapat mereka di depan publik. Namun, penting untuk dilakukan dengan cara yang teratur dan tidak merusak fasilitas umum. Ia berharap mahasiswa dapat mengedepankan argumentasi yang konstruktif dalam menyampaikan aspirasi mereka.
Di samping itu, Hendra menyampaikan bahwa terdapat prosedur pengamanan yang diterapkan selama berlangsungnya demonstrasi. Polisi akan memastikan bahwa segala bentuk penyaluran suara mahasiswa berjalan dengan aman tanpa menimbulkan kerusuhan yang tidak perlu.
Ia juga menyoroti adanya empat titik aksi demonstrasi yang terjadi pada hari tersebut di wilayah Polda Banten. Dengan berbagai lokasi aksi, diharapkan kepolisian dapat melakukan pengawasan yang lebih baik dan koordinatif agar situasi tetap terjaga.
Kejadian Ricuh di Kota Serang
Meskipun jaminan tersebut diberikan, situasi di Kota Serang pun menunjukkan adanya ketegangan yang akhirnya berujung pada kericuhan. Sekitar pukul 19.30 WIB, bentrokan terjadi ketika massa demonstran membakar pos lalu lintas di area Bunderan Ciceri. Kejadian ini memicu respons cepat dari aparat kepolisian.
Polisi harus mengambil langkah tegas dengan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Asap dari gas tersebut membuat suasana menjadi kacau, dan sejumlah mahasiswa serta warga sekitar terpaksa menjadi korban dari insiden tersebut.
Dalam kondisi yang tidak kondusif ini, sebagian demonstran berusaha melarikan diri sementara yang lain tetap bertahan dengan meneriakkan yel-yel perlawanan. Hal ini menunjukkan adanya keberanian yang kuat di antara peserta unjuk rasa untuk tetap berada di tempat meskipun dalam ancaman situasi yang memburuk.
Pentingnya Dialog Antara Aparat dan Mahasiswa
Hendra menegaskan bahwa dalam setiap aksi demonstrasi, dialog yang terbuka dan saling menghormati antara aparat kepolisian dan mahasiswa adalah kunci untuk menghindari konflik yang lebih besar. Jika kedua belah pihak dapat saling memahami, maka keresahan yang bisa muncul dapat diminimalisir.
Kesediaan untuk bertukar pikiran dan mendengar aspirasi satu sama lain penting agar masalah yang ada dapat diselesaikan secara damai. Hendra berpendapat bahwa dengan pendekatan yang lebih persuasif, situasi yang menegangkan pun bisa diredakan.
Oleh karena itu, ia berharap agar mahasiswa tidak hanya mengekspresikan kekecewaan, tetapi juga menawarkan solusi yang nyata untuk permasalahan yang mereka hadapi. Langkah ini akan menunjukkan kedewasaan dan komitmen mereka terhadap perubahan.


