www.lineberita.id – TANGERANG – Proyek revitalisasi Pasar Anyar di Kota Tangerang yang menghabiskan anggaran sebesar Rp132 miliar menghadapi banyak kritik akibat masalah kebocoran yang terjadi meski belum resmi dibuka. Kebocoran yang terjadi di berbagai titik kios tersebut menggugah pertanyaan serius mengenai kualitas pelaksanaan proyek ini.
Sejumlah pedagang mengeluhkan bahwa ketika hujan lebat, banyak kios yang kebanjiran akibat kebocoran dari plafon, talang, dan sambungan pipa. Kejadian ini menimbulkan keraguan tentang pengawasan dan kualitas pembangunan yang telah dilakukan.
Ketidakpuasan ini bukan muncul tanpa sebab; sejumlah pedagang telah melaporkan masalah ini kepada pihak berwenang. Namun, pengaduan mereka tampaknya kurang mendapatkan perhatian serius dari pihak Pemkot Tangerang.
Kebocoran di Pasar Anyar sudah menjadi masalah kronis semenjak bulan Januari, mengatakan Wakil Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Anyar, Gufron. Penduduk sekitar, termasuk pedagang, merasa frustrasi dengan kondisi pasar yang baru direnovasi ini.
Kondisi Kebocoran yang Mengeruh Proyek Revitalisasi
Kondisi kebocoran di Pasar Anyar menjadi perhatian utama ketika hujan deras melanda. Dalam peristiwa tersebut, banyak kios yang tidak mampu menampung air, sehingga mengganggu aktivitas perdagangan. Hal ini semakin menambah kekhawatiran pedagang mengenai keamanan barang dagangan mereka.
Beberapa pedagang melaporkan bahwa insiden serupa telah terjadi berulang kali saban kali hujan turun. Setiap kali kejadian ini terulang, mereka berusaha untuk memberi tahu pemerintah daerah, tetapi respons yang didapat tidak sebanding dengan harapan.
“Kami merasa suara kami tidak didengar,” kata seorang pedagang. “Bukan hanya kami yang berharap perbaikan, tetapi juga masyarakat yang mengandalkan pasar ini sebagai sumber berbelanja.”
Komunikasi yang Buruk Antara Pedagang dan Pihak Pemkot
Meskipun beberapa laporan sudah diajukan, tidak ada langkah konkret yang terlihat dari pihak Pemkot untuk mengatasi masalah ini. Para pedagang merasa tindakan yang diambil terlalu lambat dan tidak sesuai dengan urgensi masalah. Hal ini menjadi sumber kekecewaan yang mendalam bagi mereka.
Kondisi ini kian memburuk ketika pihak berwenang tidak menunjukkan itikad baik untuk mendengarkan keluhan para pedagang. “Harusnya kami ditegur dengan baik, bukan dipersalahkan,” tambah Gufron.
Tanggapan skeptis yang diberikan oleh pihak pemkot menjadi salah satu kendala utama. Pedagang merasa seharusnya pemerintah berterima kasih atas masukan yang diberikan, tetapi sebaliknya, mereka justru dipertanyakan. Hal ini dapat menambah ketegangan antara pedagang dan responsibilitas pemerintah.
Biaya Besar dan Dampak bagi Pedagang
Proyek revitalisasi ini menelan biaya yang sangat besar, mencapai Rp132.621.411.185. Meski dana yang dialokasikan begitu besar, namun hasilnya justru mengecewakan banyak pihak, terutama pedagang. Rasa kecewa ini dirasakan oleh mereka yang berharap pasar yang lebih baik.
Seluruh upaya untuk memindahkan pedagang ke lokasi baru seharusnya menjadi langkah positif, tetapi kenyataannya jauh dari harapan. “Kami tidak perlu dikerjakan setengah hati,” ungkap pedagang. “Kami hanya ingin pasar yang dapat berfungsi dengan baik.”
Sementara itu, setiap kali hujan menguyur, para pedagang kembali menghadapi masalah yang sama. Ini menunjukkan bahwa kualitas konstruksi dan pengerjaan revitalisasi ini sangat dipertanyakan. Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin kerugian berlipat ganda akan dialami oleh pedagang.
Pihak pemkot pernah menyampaikan alasan bahwa proyek ini masih dalam tahap pengerjaan. Namun, ini bukanlah excuse yang bisa diterima oleh para pedagang. Mereka sangat berharap adanya perhatian yang lebih serius terhadap kondisi yang sedang mereka hadapi saat ini.


